Kita (termasuk saya) sering kali mengatakan
Wah…kemarin saya untung… tapi hari ini rugi’….
Kemarin saya beruntung…. Tapi hari ini sial’ dan orang tersebut (termasuk saya), merasa sedih, kecewa… dengan kerugian atau kesialan tersebut!
Tapi sebetulnya kalau kita cermati kehidupan ini . Ya…seperti perumpamaan ’kuas’….
Kehidupan sepenuhnya adalah lukisan Tuhan. DIAlah yang memegang “kuasnya” dan manusialah “kuasnya”. Sang pelukis sangat otoriter dalam memilih kuas yang akan digunakannya. Sementara itu “sang kuas” berharap untuk dipilih melaksanakan tugas sang pelukis.
Dalam penggunaan kuas sang pelukis selalu mengharapkan suatu kondisi “kuasnya” bisa menghasilkan lukisan yang menjadi tujuan sang pelukis.
Agar kondisi tersebut tercapai bisa saja sang kuas terlebih dahulu di cuci, di bersihkan, di keringkan, di potong bulu kuas yang tak diinginkan atau bahkan sebagian bulu kuas di cabut..
Manusia sebagai “kuasNYA” untuk melukis kehidupan ini tentu sebelum di gunakan perlu persiapan2 pencapaian kondisi yang di inginkan sang maha pelukis sebelum di gunakan. Untuk itu Tuhan memberikan manusia ilmu pengetahuan, pengalaman serta kesiapan diri. Mungkin proses inilah yang diterjemahkan oleh manusia sebagi cobaan.
Dalam hidup sebetulnya kita tidak pernah merugi ….Allah s.w.t tidak pernah berkehendak kita merugi ataupun sial…..
Allah senantiasa selalu memberi kita keuntungan… atas segala hal yang kita usahakan….
hanya keuntungan tersebut bisa bersifat tangible (kasat mata), bisa juga bersifat in-tangible (tidak kasat mata). Dalam hal-hal yang kita usahakan, kita bisa mendapatkan dua-duanya….. tapi bisa juga Cuma salah satu saja! Tapi yang jelas : tidak mungkin dua-duanya luput!
Contohnya :
Seorang pengrajin yang bekerja keras, dengan sepenuh hati, sepenuh kecintaan…. membuat meja pesanan seseorang… ternyata setelah dihitung-hitung ongkos produksi vs. Harga jual; dia mengalami kerugian. Secara finansial (tangible) memang benar merugi….. tapi dia pasti mendapatkan keuntungan yang intangible. Karena meja yang dibuatnya dengan tekun, sepenuh hati, sepenuh kecintaan… telah menimbulkan kekaguman bagi sang pembeli… telah menimbulkan respek dari sang pembeli terhadap pengrajin tersebut …..dan besar kemungkinan si pembeli akan merekomendasikan orang-orang yang dikenalnya untuk juga memesan barang-barang kepada si pengrajin tersebut! Jadi, untuk usahanya besok… justru bisa mendatangkan keuntungan yang bersifat tangible maupun intangible … asal si pengrajin tersebut tetap bekerja dengan kualitas hati dan pikiran yang sama baiknya…. apalagi bila menjadi lebih baik lagi!
Atau contoh lainnya :
Seorang Istri yang telah berusaha sebaik-baiknya, dengan sepenuh hati untuk menjadi istri yang baik bagi suami-nya; namun ternyata mendapatkan perlakuan yang tidak layak bagi suaminya. Secara hitungan matematis, sepertinya merugi! Tapi kalau sang istri tersebut menerimanya dengan segenap kelapangan… maka dia akan menerima keuntungan yang luar biasa dari segala upayanya tersebut :
Dia akan menjadi seorang istri yang lebih sabar… lebih kuat… lebih bijak…daripada orang
kebanyakan!
Jadi, sangat benar sekali firman Allah s.w.t yang mengatakan bahwa
“Sungguh… bagi orang-orang yang beriman… tidak akan pernah merugi!!”
Wassalamualaikum wr. wb